Subscribe

Powered By

Free XML Skins for Blogger

Powered by Blogger

Selasa, 17 November 2009

4 Strategi Mempertahankan Semangat Ngeblog

Salah satu penghambat kemajuan sebuah blog ialah ketika sang pemiliknya merasakan penurunan semangat ngeblog pada masa tertentu. Penyebabnya bisa macam-macam. Sebenarnya itu sesuatu yang sangat wajar. Namun jika penurunan semangat tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, tentunya akan berpotensi menghentikan perkembangan blognya. Minimal akan memperlambat kemajuan blog yang bersangkutan.

Nah, bagaimana tips agar semangat ngeblog kita tetap bisa menyala dan senantiasa terpelihara?



1. Pasanglah widget-widget pemonitor atau penakar perkembangan blog.

Contohnya seperti widget alexa rank, pagerank, atau pemonitor trafik seperti histats dan sitemeter. Bisa juga yang punya fitur lengkap seperti extremetracking. Termasuk widget pemonitor live traffic seperti feedjit (yang bisa memberikan data artikel apa saja yang pengunjung baca dan dari media apa saja mereka datang ke blog kita).

Lalu, buat apa memasang widget-widget tersebut pada blog kita? Sebatas gaya-gayaan kah? Atau sekedar aksesoris pemanis? Tentunya tidak demikian. Keberadaan widget-widget tersebut bisa membuat blog kita jadi terasa lebih hidup. Setiap kita mengaksesnya pun, kita jadi tetap semangat untuk terus meningkatkan nilai atau angkanya. Efeknya, kita jadi terdorong untuk tetap rajin blogwalking dan terus meng-update konten blog kita secara berkala.

2. Coba pasang target jumlah trafik/visitor harian yang ingin dicapai dalam waktu tertentu.

Misalnya dalam 3 bulan ke depan, 6 bulan ke depan, atau bahkan setahun ke depan. Hal ini sangat ampuh bin mujarab untuk tetap mengobarkan semangat ngeblog kita yang mungkin sempat surut atau jeblok. Dengan punya target jangka panjang (atau menengah), kita biasanya jadi termotivasi untuk mencapainya.

Sekedar memotivasi diri sendiri, saya pribadi punya target untuk meningkatkan jumlah pengunjung harian blog ini menjadi 200-an visitor/hari dalam waktu 3 bulan ke depan. Cukup realistis saya kira

3. Coba niatkan bahwa setiap tulisan yang kita posting adalah untuk berbagi atau sekedar menyalurkan hobi menulis.

Dengan demikian, ketika kita menemui kenyataan bahwa postingan kita ternyata minim respon berupa komentar, semangat ngeblog kita tidak akan menurun drastis. Kita sudah merasa cukup puas jika telah berhasil menulis sesuatu yang sekiranya bermanfaat bagi pembaca/pengunjung. Atau cukup puas karena telah menyalurkan uneg-uneg pribadi kita untuk konsumsi publik.

4. Cobalah secara rutin memposting tulisan hangat untuk menguji penerapan ilmu SEO yang kita miliki.

Salah satu hal yang sering membuat semangat ngeblog jadi kendur ialah ketika kita terlalu idealis dalam memilih tema tulisan yang akan diposting. Termasuk terlalu membatasi jenis artikel yang ingin ditulis.

Berkomitmen untuk membangun niche blog sebenarnya sangat baik. Namun buat apa jika pada akhirnya malah membuat perkembangan blog kita jadi terhambat? Buat apa jika akhirnya membelenggu kreativitas?


Oleh karena itu, tidak ada salahnya berkomitmen untuk memposting tulisan hangat secara berkala (misalnya seminggu sekali). Di situlah ilmu SEO yang kita miliki akan diuji. Ketika tulisan hangat yang kita posting ternyata menuai banyak kunjungan dari search engine, biasanya akan menimbulkan suatu gairah atau semangat yang menyala-nyala untuk tetap mengulang kesuksesan yang sama di masa-masa selanjutnya.

Nah, itu artinya, semangat ngeblog pun akan bisa tetap terpelihara. Sebab kita termotivasi untuk terus mempraktekkan dan menyempurnakan penerapan teknik SEO yang kita ketahui. Untuk kemudian membuktikan efektivitasnya. Itulah salah satu asyiknya belajar SEO.

***

Sementara ini cukup 4 tips saja yang bisa saya bagikan buat rekan-rekan blogger sekalian. Semua tips tersebut adalah hasil pengalaman pibadi saya sendiri. Jadi sudah saya praktekkan. Dan hasilnya lumayan efektif untuk tetap mempertahankan semangat ngeblog saya sampai saat ini

Bagaimana dengan anda sendiri? Punya tips lain?

Original Article
Read More ..
Strategi Bisnis : Real Time Service, metode jitu mempertahankan pelanggan

Saat ini setiap perusahaan skala besar maupun skala kecil berupaya menajamkan strategi bisnisnya karena pengaruh:

1. Tumbuhnya industri dan usaha yang begitu cepat
2. Kemudahan regulasi dan informasi pendirian perusahaan
3. Dipermudahnya regulasi investor asing masuk, walau dibatasi secara parsial
4. Era globalisasi yang mulai menancapkan unsur persaingan tanpa batas
5. Era teknologi informasi yang membuka wacana pemahaman bisnis global kepada siapapun


Salah satu strategi bisnis yang dilakukan adalah bagaimana mempertahankan pelanggan yang ada. Mempertahankan pelanggan yang ada tersebut menurut saya dapat dibagi menjadi:

1. Pelanggan yang sangat loyal sehingga dapat dikategorikan fanatik
2. Pelanggan loyal yang sedang transisi dari pelanggan yang terpuaskan
3. Pelanggan terpuaskan (bisa berawal hanya dari 1 transaksi)
4. Pelanggan yang sedang berpikir untuk menentukan reaksi/persepsi terhadap perusahaan anda

Real time service yang dianggap sebagai strategi hebat di era persaingan ini mempunyai kekuatan bahwa terpuasakannya pelanggan hari ini belum tentu akan terpuaskan lagi pada lain hari walaupun dengan bentuk kualitas dan produk yang sama, sehingga perlu pengembangan Real Time Service yang lebih mampu memenuhi secara ‘value’ (bukan fisik semata) dari pelanggan.

Real time service (RTS) sebagai kunci kemenangan bisnis dan strategi bisnis untuk mempertahankan pelanggan mempunyai konsep antara lain:

1. Menjaga kualitas hubungan dengan pelanggan dengan selalu berusaha menjaga kedekatan dengan pelanggan dengan berbagai cara: Menyediakan telpon bebas pulsaMembangung sebuah web yang mampu menjembatani keomunikasi dimanapun dan kapanpun, karena alamatnya www.perusahaan.com sangat mudah dihafal daripada harus menghafal alamat rumah dan panjangnya nomor telepon dan fax. Website sebagai elemen RTS dibudayakan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. (Informasi perihal pembuatan web ; www.visimaster.com)
2. Mengkondisikan agar terciptanya pengalaman yang mengesankan bagi pelanggan
3. Membangun unsur komunikasi dengan dukungan informasi strategis yang mampu menjawab pertanyaan di benak pelanggan
4. Menyediakan strategi atau manajemen complain sebagai bentuk media penampungan permintaan dan keluhan pelanggan dengan cepat, akurat dan “sangat menjawab”.
5. Menyediakan pola penerimaan feedback atau umpan balik untuk menyempurnakan produk dan layanan untuk masa mendatang.

Dari sekian metode dan strategi yang pernah anda terapkan, sudahkan anda melengkapi dengan unsur-unsur diatas?

Artikel ini ditulis oleh Ipan Pranashakti KIP untuk masukan seorang rekan pengusaha digital printing di yogya yang pernah kawatir akan kehilangan sebagain pelanggannya.
Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

Add to Technorati Favorites
Tulisan berkualitas lainnya :

* Strategi Bisnis Toko Online : Pentingnya mengkoneksikan Produk yg dijual di Toko Online dengan domain
* Strategi marketing : Sukses bisnis dengan membangkitkan sikap sukarela masyarakat/pelanggan
* Kewirausahaan dan Strategi Bisnis: 10 kendala bisnis utama menurut Penelitian
* Strategi Bisnis dan strategi marketing : Manfaat pameran yang vital bagi usaha
* Strategi Bisnis dan Kewirausahaan : Sukses Bisnis dengan menguatkan “Nilai” Layanan dengan 3 cara
* Strategi marketing & Personal selling : 5 penyebab utama penolakan membeli produk
* Strategi Bisnis : Pentingnya membangun keahlian komunikasi di lingkup bawahan demi pelanggan
* Kewirausahaan dan Strategi Marketing : 5 Cara Memasarkan usaha baru secara ringan tanpa konsep yang rumit
* Strategi Marketing : 5 Alasan memanfaatkan email marketing sebagai media yang murah namun efektif
* Strategi marketing : 5 strategi menyusun web yang prospektif untuk memulai bisnis

Original Article
Read More ..

Jumat, 09 Oktober 2009

Business Strategy: Real-Time Service, telling method of maintaining customer

We have every large-scale companies and small-scale attempt to sharpen its business strategy because it influences:

1. The growth of industry and business so fast
2. Ease of regulation and the establishment of corporate information
3. Dipermudahnya regulation of foreign investors in, although
restricted to partial
4. Era of globalization that began plugging element of competition with no limits
5. Era of information technology opens the discourse of global business understanding to anyone



One of the business strategy taken is how to retain existing customers. Retain existing customers is in my opinion can be divided into:

1. A very loyal customer that can be categorized fanatic
2. Loyal customers who are in transition from a satisfied customer
3. Satisfied customers (can be started only from 1 transaction)
4. Customers who are thought to determine the reaction / perception of your company

Real-time service which is regarded as a great strategy in this competitive era, has a strength that customers today terpuasakannya not necessarily be satisfied again on another day, although the shape and quality of the same product, so the need to develop Real-Time Service that is more capable of fulfilling the 'value' (rather than purely physical) of the customer.

Real-time service (RTS) as a key to winning business and business strategy to retain customers has a concept, among others:

1. Maintaining quality relationships with customers by always trying to maintain proximity to customers in various ways: Provides a free telephone pulsaMembangung a web keomunikasi able to bridge wherever and whenever, because the address is very easy to memorize www.perusahaan.com than having to memorize long home address and phone number and fax. Website as RTS elements cultivated by American companies. (Information about creating web; www.visimaster.com)
2. Conditioned in order to create a memorable experience for the customer
3. Building elements of communication with the support of strategic information that could answer the question in the minds of customers
4. Provide management strategy or complain as a form of storage media requests and customer complaints quickly, accurately and "very answer".
5. Provide feedback acceptance patterns or feedback to improve products and services for the future.

Of all the methods and strategies that once you apply, Have you complete the above elements?

This article was written by KIP Pranashakti IPAN to input a digital printing business associates in Yogya ever worried sebagain will lose customers.
Original Article http://ipan.web.id/strategi-bisnis-real-time-service-metode-jitu-mempertahankan-pelanggan/
Read More ..

Kamis, 08 Oktober 2009

Mas Romi, selama kuliah kan kita sebagai mahasiswa nggak sempat latihan berbisnis. Padahal aku tuh pinginnya begitu lulus langsung bisa mandiri alias bikin perusahaan sendiri. Gimana ya caranya. (Maria, Samarinda)

Aku ini kutu kupret mas, mahasiswa teknik informatika tapi kemampuan coding lemah. Kalau buat-buat desain sih lumayan mas, photoshop dan coreldraw itu peganganku tiap hari. Aku mimpi pingin berbisnis sendiri, cuman nggak ngerti gimana dan apa yang harus aku pelajari sekarang. Bantu aku dong mas. (Irwan, Bandung)

Dua pertanyaan yang sering muncul ketika saya mengisi seminar dan workshop di kampus-kampus tentang entrepreneurship. Pertanyaan yang harus kita hargai karena generasi muda kita punya semangat untuk hidup mandiri dan tidak tergantung kepada belas kasihan orang lain. Banyak cara saya menjawab, hanya mungkin untuk mahasiswa yang masih polos dan lugu

saya beri 10 kiat mudah seperti berikut ini.

1.

Pelajari latar belakang teman satu angkatan. Bapak dan ibunya kerja sebagai apa misalnya. Apakah ada yang menjadi dokter, mengelola klinik, rumah sakit atau apotik? Atau mungkin ada yang punya toko buku atau pengelola perpustakaan? Oh mungkin ada yang bekerja di bengkel? Pelajari semua dan cari informasi sebanyak mungkin? Lha untuk apa? Hush diam dulu, ikuti kiat kedua ;)
2.

Ok sekarang pilih, cari teman yang bisa diajak kompromi, yang cukup dekat atau bahkan sahabat, dan punya semangat sama untuk terjun bebas memulai berbisnis. Anggap kita pilih yang kebetulan bapaknya punya atau mengelola apotik. Lho terus mau digimanain tuh?
3.

Cari buku di toko buku, ada nggak buku tentang belajar bahasa pemrograman yang menggunakan contoh membangun aplikasi atau sistem informasi manajemen (SIM) untuk apotik? Cari buku sampai yang terselip di rak-rak toko buku. Kadang ada buku yang meskipun desain covernya jelek, tapi studi kasusnya lengkap, bahkan source codenya dibagi. Nggak dapat juga? Ok ayo cari yang open source saja, coba cek dari sf.net, saya yakin bisa ditemukan. Lha kalau belum nemu juga? Coba Googling deh :)
4.

Sekarang mulai oprek SIM untuk apotik tadi. Mulai pelajari kodenya, oprek dan tambahkan fungsi-fungsi yang diperlukan. Masih sederhana dulu nggak papa. Buka semua file image, baik gif, jpg, dan png. Lakukan editing atau buat image baru yang unik dan khas. Intinya percantik desainnya, ini enteng kan, apalagi anda jagoan manipulasi image dan foto (asal jangan porno) :) Jangan lupa cek lisensinya supaya tidak melanggat, dan juga beri credit ke pengembang asal kalau itu opensource. Nggak perlu risih untuk memasukkan satu kalimat “Powered by …. ” atau “Engine by …” pada SIM Apotik yang kita oprek tadi.
5.

Eng-ing-eng … kita sudah punya produk berupa software yang siap ditawarkan nih, meskipun sederhana dan engine-nya ngambil dari contoh di buku atau opensource. Nah obrolkan dengan teman yang kita pilih tadi, minta dia “merayu” bapaknya supaya mau pakai software SIM itu di apotik milik beliau. Nggak perlu bayar kok, gratis, tinggal nyediakan PC atau laptopnya saja, itupun nggak perlu canggih-canggih. Komputer tua saja toh SIM kita juga belum banyak fiturnya.
6.

Hore berhasil diimplementasikan! Berdua dengan sahabat kita tadi, bantu pegawai apotik untuk entri data yaitu data daftar obat yang disediakan oleh apotik. Jangan lupa buat spanduk kecil dan brosur diatas komputer tadi, beri tulisan:”Apotik ini Dikelola dengan Sistem Informasi Manajemen Apotik (SIMAPO) ver 1.0” ;)
7.

Jangan puas sampai disitu, buat situs untuk promosi, kalau nggak ada modal pakai saja blog gratisan dengan Wordpress.Com atau Blogspot.Com. Ngeblog deh, ceritakan bagaimana SIMAPO itu dikembangkan. Tulis juga pengantar tentang sistem informasi manajemen, tentang obat-obatan, tentang apotik, tentang kenapa apotik harus memanfaatkan IT. Kalau perlu manjakan pengunjung dengan daftar apotik seluruh Indonesia, data dari mana? Ya cari dari YellowPage atau Googling yo :) Ops jadi kelupaan, jangan lupa beri tulisan yang agak gede: “SIMAPO ver 1.0 Telah diimplementasikan di Salah Satu Apotik di Kota Besar di Indonesia“.
8.

Masih belum boleh puas :) Rayu teman lain yang punya tetangga, kakek, nenek, bapak, ibu, paman atau saudaranya baik jauh maupun dekat yang mengelola apotik. Minta supaya mau install, gratis, tapi kalau mau bayar juga nggak nolak, Rp 500.000 deh, kalau ditawar Rp 50.000 ya nggak masalah. Anggap saja ada ongkos naik angkot untuk install SIM-nya :) . Jangan lupa update spanduk dan brosur, “Apotik Ini Dikelola dengan SIMAPO ver 1.0, Sistem Informasi Manajemen untuk Apotik yang telah Diimplementasikan di Beberapa Kota Besar di Indonesia“.
9.

Alhamdulillah sudah dapat dua customer coi! Meskipun masih gratisan, tapi lumayan untuk nambahi Portfolio :) Mulai oprek-oprek lagi aplikasi Apotik kita, tambahkan fitur berdasarkan feedback dari Apotik yang sudah menggunakan. Benahi lagi user interface, percantik lagi, buat yang lebih segar dan unik, beri versi baru 1.1. Mulai tawarkan lagi, hanya jangan lagi gratis, Rp 300.000 atau Rp 700.000 gitu deh, tapi kalau teman sendiri yang minta asal ada ongkos jalan juga OK :) Mudah-mudahan bisa terus berkembang, atau dalam 1-2 tahun jangan-jangan sudah mulai bisa ikutan tender Departemen Kesehatan dengan pagu Rp 100 juta tuh untuk SIM Apotik … hehehe
10.

Kalau sudah matang dengan satu produk, terus perbaiki produk itu sampai lengkap fiturnya. Dan kalau tertarik untuk mengembangkan produk lain, mulai lagi dari tahap pertama, cari teman lagi yang bapaknya punya bengkel, pengelola perpustakaan, punya toko buku, dsb. Lha siapa tahu bisa bikinkan aplikasi untuk bengkel, perpustakaan atau toko buku. :)

Nggak terasa, setelah melewati tahapan ke 10, dua mahasiswa lugu kita telah menjelma menjadi dua orang entrepreneur :) Di saat teman-teman yang lain masih pontang-panting membawa surat lamaran pekerjaan, kedua mahasiswa ini ketika lulus sudah bisa mandiri, punya produk yang mapan, yang siap dijual dan ditawarkan ke berbagai institusi atau perusahaan. Ternyata masuk universitas tidak sia-sia lho, ilmu yang dipelajari di kampus alhamdulilah bisa digunakan untuk kehidupan kita, bahkan bisa membuka lapangan kerja baru :)

Tetap dalam perdjoeangan!

By Romi Satrio Wahono
http://romisatriawahono.net/2008/03/18/10-kiat-menjadi-entrepreneur-untuk-mahasiswa-lugu/
Read More ..

Tiga Strategi Bisnis

Apa sebenarnya yang membuat Microsoft terus berjaya? Lalu mengapa Nokia mampu menjadi produk cell phone yang paling banyak dicintai para konsumen? Dan apa yang membuat BMW selama puluhan tahun terus menjadi ikon kemakmuran yang terus diburu orang? Belajar dari kisah sukses perusahaan-perusahaan berskala global terkemuka dalam melayani pelanggan, tampaknya ada sejumlah wisdom yang bisa dipetik. Pelajaran utama yang bisa diambil adalah ini : bahwa proses melayani pelanggan ternyata mesti diawali dengan pilihan strategi yang benar. Dengan kata lain, proses melayani kebutuhan pelanggan ternyata tidak sekonyong-konyong muncul dari langit, namun mesti diselaraskan dengan pilihan strategi perusahaan (corporate strategy)

ang telah diputuskan.

Dalam konteks ini terdapat tiga jurus strategi yang acapkali diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia. Jurus yang pertama adalah pilihan strategi yang berorientasi pada product leadership (keunggulan produk). Perusahaan pada kategori ini selalu berupaya menciptakan produk-produk dengan kualitas premium, dan selalu one step ahead dibanding produk kompetitor. Mereka tak segan-segan mengeluarkan dana besar untuk bagian R & D-nya demi terciptanya produk yang ciamik. Intel yang terkenal dengan seri Pentium-nya mungkin contoh yang paling sempurna untuk kategori ini. Atau juga perusahaan-perusahaan adibusana seperti Louis Vuitton yang tenar dengan produk tas-nya. Dan tentu saja, kita mesti menunjuk BMW dan Ferarri, dua produsen otomotif yang selalu menciptakan produk-produk legendaris nan menawan.

Jurus strategi yang kedua adalah pilihan yang berorientasi pada operational excellence (keunggulan operasional). Bagi perusahaan dalam kategori ini, yang paling utama adalah membangun proses bisnis yang super efisien. Harapannya, dengan efisiensi proses ini, mereka mampu menekan ongkos produksi, dan ujung-ujungnya bakal mampu menjual produknya dengan harga yang lebih kompetitif. Dell, perusahaan komputer asal Texas itu, merupakan sampel yang layak disebut dalam kategori ini. Dengan model dan proses bisnis yang amat efisien, mereka mampu menciptakan produk-produk desktop dengan harga yang lebih komptetitif dibanding para pesaingnya, semacam IBM dan HP.

Jurus yang terakhir adalah pilihan strategi yang mengacu pada customer intimacy (keintiman dengan pelanggan). Bagi perusahaan dalam kategori ini, yang paling utama adalah membangun hubungan yang intim dengan para pelanggannya; dengan harapan akan tercipta relasi yang langgeng. Banyak perusahaan di bidang perhotelan dan juga penerbangan yang melakoni strategi ini demi membangun loyalitas para pelangggannya. Harley Davidson juga amat terkenal memiliki hubungan yang luar biasa intim dengan para pemakainya; sehingga mereka bisa membangun fanatisme yang amat intens dengan jutaan penggemarnya di seluruh jagat.

Tentu saja, banyak perusahaan yang juga mengkombinasikan beragam jurus itu, dan tidak hanya berfokus pada satu jurus. Honda misalnya, selain dikenal memiliki produk-produk yang unggul, juga dikenal memiliki proses bisnis yang amat efisien. Demikian juga, Singapore Airline. Selain memiliki produk penerbangan yang ciamik, mereka juga memiliki keahlian dalam membangun hubungan yang intim dengan para pelanggannya.

Demikianlah, tiga jurus strategi bisnis yang layak dikedepankan. Deretan jurus yang bila dipentaskan dengan presisi yang tinggi dijamin akan menghantarkan sang pemainnya dalam bahtera keunggulan.

http://strategimanajemen.net/2007/10/11/tiga-jurus-strategi-bisnis/
Read More ..

Senin, 19 Januari 2009

Strategy Control

Concentrated control strategy with the way the strategy dimplementasikan, to detect any problems or areas of potential problem areas and make the necessary adjustments. Newman and Logan using terminology "rudder control system" to highlight some important characteristics of the control strategy. Typically, a period that occurred between the beginning of the important implementation of the strategy with the achievement of results that diharapkannya. During that time, a number of projects implemented, the investment made and the actions undertaken to mengimplentasikan new strategy.

Also, environmental situation and internal company growing and developing. Control strategy is needed to control the company through these events. Control strategy should provide some immediate corrections based on the performance of medium and new information.
Henry Mintzberg that issue as well the organization plan strategy, but different strategies that might appear. Starting with a planned strategy or related to the expected several things:
• Strategy is expected to be realized that the strategy is deliberately (deliberate strategy)
• The strategy is expected that can not be realized that the strategy is not realized (unrealized strategy)
• Strategies that have realized that is not expected called an emergency strategy (emergent strategy)
Recognizing that a number of ways with different strategies on the expected and realized that the strategy allows the firm to differentiate the importance of control and evaluation system that the company can monitor its performance and make corrections if the action is different from the actual performance of the strategy and expected results of the planned.
Robert Anthony of the Harvard Business School said that the planning and control is connected between the two organizations in the near future so that to create a separation between them does not want and do not mean. Planning must precede control, control must reflect the planning. Anthony suggested that the planning and control organizations to disegmantasi in three categories, namely strategic planning, management control and control task (operational). He said that strategic planning means that the strategic planning and control, similar to the control also involves the management is planning and control activities.
Indonesian

original article
Read More ..

Minggu, 18 Januari 2009

Operational Strategy

The success of Toyota become one of the world-class company is not operational despite the benefits of the company. PT. Toyota is always to create the innovation process with a fast and flexible, which also provide what customers want on time with the highest quality and an affordable cost. Toyota on operational excellence is made as a strategic weapon. Operational excellence is also partly based on quality improvement methods such as just in time and jidoka applied and Toyota introduced the world to manufacture.

He explained there are two main pillars which form the "Toyota Way" and the five pillars to create value that can be a company culture (corporate culture). The first pillar is the ongoing development (continuous improvement) means having the desire to continue to improve the business through the creation of ideas and the best effort to produce good quality products and services. Toyota approach represented through continuous improvement in the value of the three challenge (the challenge) is to make a decision based on the management philosophy of doing business in the long term; kaizen, learning organization on a continual basis with the view of the future; and genchi genbutsu, see the reality in front of the eye so that better understand the situation correctly. Second pillar is "respect for people" (respect for other people) who have stressed that respect for each other are important in business because of the success of a business is created from individual and business is good teamwork. Respect for the two people that respect and value teamwork. In the exposure of the Toyota Way, he was the "4P" model Toyota Way is the foundation of Toyota Production System (TPS), which practiced in Toyota factories around the world, namely Philosopy, Process, People / Partners, and Problem Solving.


With the Toyota Way means that the company will be able to arrange / organize the work to be how to create efficient corporate excellence. This was PT. Toyota has been able to passing GM as the biggest car producer in the world. The concept of work that is applied PT. Toyota to improve business processes are able to eliminate waste of time and resources, build a quality system in place to work, find a cheap alternative but reliable, improved business processes and building a culture of learning for continuous improvement. Therefore, Toyota Way observe three (3) must diminimalisasi aspects of the company, especially in the service level, the Muda (waste), Mura (not regular) and Muri (excessive load / overload). Thus, the Toyota Way can be used as a reference and learning, inspiration and vision for a company that want to succeed in the long term.


original article
Read More ..